Our News

berita

Asa Pendidikan Anak di Tengah Perkebunan: Rumah Belajar Tunas Harapan

Sejumlah siswa menggunakan seragam pramuka tanpa menggunakan sepatu terlihat masuk ke dalam bangunan sederhana yang terbuat dari papan kayu dengan atap asbes. Lalu dengan riang, mereka memulai proses belajar dengan dua guru mereka, Ikul Prasetyo dan Andi Prasetyo, yang berasal dari ‘Banyuwangi Mengajar’. Ikul Prasetyo dan Andi Prasetyo sudah sejak Agustus 2018 menjadi relawan mengabdikan diri mengajar di wilayah Tlocor. Walaupun tidak dilengkapi dengan kursi atau meja seperti kelas pada umumnya, para siswa terlihat semangat mengerjakan tugas di atas lantai yang di lapisi karpet berwarna biru. Bangunan sederhana tersebut adalah ‘ Rumah Belajar Tunas Harapan’.

Bangunan ini dirikan sejak November 2018, untuk melayani pendidikan anak-anak yang tinggal di wilayah Tlocor dan Seling, yang berada di tengah perkebunan karet, yang masuk wilayah Desa Jambewangi Kecamatan Sempu Kabupaten Banyuwangi. Total ada 13 siswa mulai dari TK hingga kelas 4 SD yang belajar di rumah belajar tersebut. Rumah Belajar Tunas Harapan adalah bagian dari SDN 7 Jambewangi. Pihak sekolah sengaja mendirikan bangunan sederhana tersebut agar anak-anak tidak perlu menempuh sekolah induk yang berjarak sekitar 7 kilometer dari Tlocor. Selain medan yang berat karena harus melalui hutan, ada beberapa anak yang tidak berangkat sekolah karena orangtuanya harus bekerja sebagai buruh di perkebunan. “Kalau mereka berangkat sekolah sendiri tidak mungkin karena masih SD, jika orangtuanya yang mengantar berarti orangtuanya tidak bekerja dan tidak dapat uang. Akhirnya, rumah belajar ini menjadi solusi.

Setiap Selasa sampai Sabtu, dua guru naik untuk mengajar, jadi anak-anak tetap dapat haknya mendapat pendidikan. Jika Senin, anak-anak yang turun untuk upacara dan berinteraksi dengan teman-temannya,” kata Kepala Sekolah SDN 7 Jambewangi Sukamto, kepada Kompas.com, Kamis (24/1/2019) Ia mengatakan, pihak sekolah menyediakan anggaran sebesar Rp 8 juta untuk mendirikan rumah belajar tersebut. Pembangunan rumah belajar tersebut dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat dan melibatkan semua unsur masyarakat, termasuk bantuan papan kayu dari pihak Perhutani. “Karena ini wilayah Perhutani, maka kami juga minta izin ke Perhutani untuk mendirikan bangunan tersebut, dan alhamdulilah disetujui,” ujar dia. Semua siswa yang belajar di Rumah Belajar Tunas Harapan adalah anak dari buruh perkebunan, yang rata-rata berasal dari Kabupaten Situbondo dan Jember. Di wilayah Tlocor sendiri, terdapat 20 kepala keluarga dan untuk wilayah Seling terdapat 7 kepala keluarga.

Sebelum ada Rumah Belajar Tunas Harapan, anak-anak belajar di mushala sederhana. Pernah suatu saat, jumlah siswa yang berasal dari Tlocor dan Seling mencapai 40 orang, sehingga mushala yang digunakan tidak mampu menampung jumlah siswa. “Agar fokus belajar, kita buat bangunan khusus. Selain itu, agar anak-anak bisa tetap bisa main dengan binatang peliharaannya. Kalau di mushala kan enggak bisa,” ujar Sukamto.

Menginap di sekolah induk

Sementara itu, Andi Prasetyo, guru relawan yang mengajar di Rumah Belajar Tunas Harapan Bangsa mengatakan, sempat kaget saat pertama kali datang ke Tlocor tempatnya mengajar. Pria lulusan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember itu sudah hampir setengah tahun menjadi relawan di SD yang berada di bawah kaki Gunung Raung tersebut. Andi adalah penerima beasiswa ‘Banyuwangi Cerdas’, yang berkewajiban melakukan pengabdian selama setahun untuk mengajar di wilayah Banyuwangi yang terpencil. Sehari-hari, Andi Prasetyo dan rekannya Ikul, memilih menginap di sekolah induk SDN 7 Jambewangi. Setiap pagi, mereka berangkat ke Rumah Belajar Tunas Harapan dengan mengendarai motor.

Mereka memutuskan tidak menginap di Tlocor karena pertimbanganya tidak ingin membebani warga yang ada di Tlocor, karena rata-rata mereka berasal dari keluarga menengah ke bawah yang tinggal di rumah sederhana dengan ruangan terbatas tanpa akses listrik. “Jika menginap di sana, nanti membebani mereka. Jadi wira-wiri saja. Akses jalan ke sana juga ekstrem dan rawan pohon tumbang, apalagi kalau musim hujan dan angin. Saya pernah sekali jatuh karena salah ambil jalan yang licin,” ujar dia.

“Kalau dari sini dibilang jauh, ya enggak juga, hanya 7 kilometer, tapi harus masuk hutan. Bahaya jika anak-anak sendirian,” kata dia lagi. Dalam kondisi apapun, mereka berdua tetap memilih berangkat untuk mengajar karena tidak tega dengan anak-anak yang sudah menunggu kedatangan mereka. “Rasanya kalau lihat mereka semua capek hilang. Apalagi, jika mereka menunggu kami, rasanya terenyuh. Warga di sana selalu perhatian menyediakan minuman dan makanan untuk kami yang mengajar,” kata pria kelahiran Banyuwangi 19 Juli 1994 itu. Jika cuaca dalam keadaan bagus, proses belajar mengajar dimulai jam 6.30 WIB. Andi mengajar siswa TK dan kelas 1 dan 2, sedangkan rekannya Ikul mengajar siswa yang kelasnya lebih tinggi.

Untuk siswa TK, sekolah selesai pukul 10.00, dan untuk SD sekitar pukul 11.00 siang. Materi pembelajaran sama dengan rekan-rekannya yang ada di sekolah induk. “Tapi, namanya anak-anak, walaupun sudah suruh pulang, ya tetap saja balik ke rumah belajar. Kan rumahnya dekat situ semua, lima langkah sudah sampai. Kecuali yang di Seling, agak jauh. Ada satu siswa yang tinggal di sana yang beberapa kali bolos karena enggak ada yang ngantar. Kami berusaha memaklumi,” ujar dia. Sementara itu, Bintang (6), siswa kelas 1 mengaku lebih senang belajar di sekolah induk karena bisa bertemu dengan banyak teman dan guru. “Enakan sekolah di bawah, lebih ramai, banyak teman. Kalau di atas sepi. Itu itu saja temannya,” kata Bintang.

Pernyataan Bintang dibenarkan oleh Humairo, yang sama-sama duduk di kelas 1. “Tapi, kalau sekolah di bawah (sekolah induk), enggak ada yang ngantar, soalnya bapak kerja. Tapi enggak apa-apa, mau di atas atau di bawah, yang penting bisa belajar,” kata Humairo. Andi berharap, para siswa yang sekolah di Rumah Belajar Tunas Harapan, bisa melanjutkan sekolah setelah lulus SD. “Saya tidak bisa membayangkan jika mereka putus sekolah. Saya ingin mereka semua bisa sekolah lebih tinggi. Semoga nanti ada solusinya,” kata Andi.

Sumber : kompas.com

  • Share:

Leave a Comment

sing in to post your comment or sign-up if you don't have any account.